Buka Rakerda MABM 2026, Bupati Romi Wijaya Sebut Majelis Adat Sebagai Pilar Penjaga Identitas Daerah
- account_circle Pro/Tim
- calendar_month Senin, 16 Feb 2026
- print Cetak

Bupati Romi Wijaya buka Rakerda MABM Kayong Utara 2026. Ia menekankan peran MABM sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga harmoni dan budaya. (Foto: Pro.)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LensaKayong.Com — Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, menegaskan pentingnya peran Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) sebagai pilar penjaga identitas daerah. Hal tersebut disampaikan saat ia membuka secara resmi Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) MABM Tahun 2026 di Pendopo Bupati Kayong Utara, Sukadana, Sabtu, 14 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Bupati Romi memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran pengurus MABM yang selama ini konsisten menjaga nilai-nilai luhur kebudayaan.
Ia menilai bahwa MABM merupakan garda terdepan sekaligus perekat harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat yang ada di Kabupaten Kayong Utara.
“MABM bukan sekadar organisasi, melainkan pilar penting dalam menjaga identitas daerah dan mempererat kerukunan di daerah kita,” ungkap Bupati Romi.
Lebih lanjut, ia berharap lembaga adat ini dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah, terutama dalam membangun karakter generasi muda yang berakhlak.
Romi menekankan pentingnya menanamkan nilai kesantunan serta etos kerja Melayu kepada para pemuda agar mereka siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
MABM juga diharapkan mampu memposisikan diri sebagai penengah dan pemersatu dalam menghadapi berbagai dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Rakerda tahun ini mengusung tema penguatan peran MABM dalam pelestarian adat untuk meningkatkan kontribusi pembangunan daerah.
Ketua MABM Kabupaten Kayong Utara, Mawardi Usman, menyatakan bahwa tema tersebut mengandung pesan moral yang sangat mendalam bagi seluruh pengurus.
Ia menegaskan bahwa penguatan peran yang dimaksud adalah dengan tidak membiarkan MABM menjadi lembaga yang pasif atau sekadar “penjaga museum”.
“Kita tidak boleh hanya pandai bercerita tentang kebesaran masa lalu tanpa memberikan dampak nyata bagi masa kini dan masa depan,” ujar Mawardi Usman dengan tegas.
Menurutnya, nilai-nilai luhur Melayu harus diimplementasikan secara nyata sebagai fondasi dalam membangun integritas sosial masyarakat di “Negeri Bertuah”.
Mawardi berharap melalui Rakerda ini, program-program yang disusun dapat lebih menyentuh persoalan mendasar di tengah masyarakat serta mendukung visi besar pemerintah daerah.
Sinergi antara pelestarian simbol budaya dan pembangunan sumber daya manusia menjadi target utama yang ingin dicapai oleh MABM di masa mendatang.
- Penulis: Pro/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar